Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

5 Soal (Uraian) Pengajaran Apresiasi Sastra dan Jawaban

Contoh Soal (Esai) Tentang Pengajaran Apresiasi Sastra

1. Adapun tujuan pembelajaran sastra dapat dilihat dari dua sisi, yaitu?

Jawaban:
Dilihat secara umum dan kurikulum yang digunakan di sekolah. Secara umum, tujuan pembelajaran sastra adalah agar siswa:
(a) memperoleh pengalaman bersastra, dan
(b) memperoleh pengetahuan sastra.


2. Untuk mengantisipasi kelemahan dalam pelaksanaan pembelajaran sastra dan bahasa pada umumnya diberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan guru. Rambu-rambu tersebut adalah sebagai berikut?

Jawaban:
a. Pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengapresiasi karya sastra. Kegiatan mengapresiasi karya sastra berkaitan erat dengan latihan mempertajam perasaan penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap budaya masyarakat, dan lingkungan hidup.
b. Perbandingan bobot pembelajaran bahasa dan sastra harus seimbang dan dapat disajikan secara terpadu. Misalnya, wacana sastra dapat digunakan sekaligus sebagai bahan pembelajaran bahasa.
c. Bahan pembelajaran pemahaman adalah mendengarkan dan membaca berlingkup pada pengembangan kemampuan menyerap gagasan, pendapat, pengalaman, pesan, dan perasaan, serta mengapresiasikan karya sastra Indonesia, sastra daerah, dan sastra asing yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia baik dalam bentuk puisi, prosa, maupun drama, termasuk cerita rakyat.
d. Bahan pembelajaran penggunaan adalah berbicara dan menulis yang berlingkup pada pengembangan kemampuan pengungkapan gagasan, pendapat, dan perasaan.
e. Sumber belajar siswa dapat berupa buku-buku yang diwajibkan, media cetak, media elektronika, lingkungan, narasumber, pengalaman dan minat anak, serta hasil karya siswa.


3. Bahan pembelajaran sastra harus sesuai dengan tingkat perkembangan kejiwaan siswa. Moody mengemukakan tahap perkembangan anak dalam menggeluti karya sastra sebagai berikut?

Jawaban:
a. Tahap autistik (the austistic stage) usia 8-9 tahun. Pada tahap ini imajinasi anak belum mengarah kepada kehidupan nyata, tetapi masih pada tahap dunia fantasi.
b. Tahap romantis (the romantic stage) usia 10-12 tahun. Pada tahap ini siswa berada pada masa perkembangan menuju ke kesenangan pada dunia nyata, mengagumi tokoh hero atau pahlawan, menyenangi kisah-kisah kepahlawanan, pengembaraan hero, kisah-kisah petualangan menjelajahi dunia nyata.
c. Tahap realistis (the realistic stage) usia 13-16 tahun. Pada tahap ini anak mulai berpikir realistis. Pernyataan-pernyataan seperti Benarkah terjadi?, Bagaimana hal itu terjadi? Bagaimana ia melakukannya?, dan sebagainya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang selalu timbul yang memperlihatkan bagaimana perkembangan ke arah kehidupan nyata mulai berkembang.
d. Tahap generalisasi (the generalizing stage) usia lebih dari 16 tahun. Pada tahap ini siswa tidak hanya berminat pada hal-hal yang detil tetapi juga sudah mengarah pada berpikir abstrak, menggeneralisasi fenomena-fenomena kehidupan yang dialaminya, menentukan moral, dan secara umum berpikir secara filosofis


4. Menurut Moody (1971) pembelajaran apresiasi sastra mengikuti penahapan?

Jawaban:
1) Pelacakan pendahuluan,
2) penentuan sikap praktis,
3) introduksi,
4) penyajian,
5) diskusi, dan
6) pengukuhan.


5. Beberapa hal yang berkaitan dengan sastra anak sebagai materi pembelajaran apresiasi sastra meliputi karakterstik sastra anak, nilai dan fungsi sastra. Jelaskan!

Jawaban:
a. Karakteristik sastra anak
Menurut Davis ada empat sifat sastra anak (Suwardi Endraswara, 2005: 212), yakni: (1) tradisional, yang tumbuh dari lapisan rakyat sejak zaman dahulu, bentuk mitologi, fabel, dongeng, legenda dan kisah kepahlawanan yang romantik, (2) realistis, yaitu sastra yang memuat nilai-nilai universal, dalam arti didasarkan pada hal-hal terbaik penulis zaman dulu dan kini, (3) popular, yaitu sastra yang berisi hiburan, yang menyenangkan anak-anak, dan (4) teoretis, yaitu yang dikomunikasikan kepada anak-anak dengan bimbingan orang dewasa serta penulisannya dikerjakan oleh orang dewasa pula.
Adapun ciri-ciri sastra anak antara lain menurut meliputi: (1) berisi sejumlah pantangan, berarti hanya hal-hal tertentu yang boleh diberikan, (2) penyajiannya secara langsung, kisah yang ditampilkan memberikan uraian secara langsung, tidak berkepanjangan, (3) memiliki fungsi terapan, yakni menerima pesan dan ajaran kepada anak-anak. Selain itu adalah fantastis, hal ini didasarkan pada perkembangan kejiwaan anak yang sarat dengan dunia fantasi.
Dari beberapa ciri sastra tersebut menunjukkan bahwa sastra anak yang dipelajari di sekolah turut andil dalam memberikan nilai positif yang sangat signifikan bagi perkembangan kepribadian siswa. Apalagi dilihat dari isi dan bentuknya sangat mudah dicerna dan dipahami oleh anak.
b. Nilai dan fungsi sastra
Untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan sastra anak sangat berperan dalam memberikan pengetahuan dan pendidikan. Ada beberapa tujuan penulisan sastra anak yaitu: (1) menghibur agar anak tertawa dan senang hatinya, (2) memberikan informasi kepada anak tentang fenomena alam semesta dan khayalan, (3) memberikan tuntunan tingkah laku dan perkembangan pola tingkah laku.